Sabtu 8 Oktober kemarin dimulailah suatu kegiatan yang
natinya diharapkan mampu melahirkan negarawan muda yang mampu memberikan pergerakan pada
NKRI ini. Sekolah Tjokro, begitulah nama dari kegiatan ini. Kegiatan ini
terinspirasi oleh sosok HOS Tjokroaminoto, yang bukan hanya kita kenal sebagai
sosok Guru Bangsa yang melahirkan tokoh-tokoh hebat, tetapi juga seorang
negarawan yang memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan
masyarakat. Sekolah Tjokro dalam jangka panjang bertujuan untuk
mengembangkan kapasitas kepemimpinan dengan komitmen menghidupkan kembali
pemikiran kebangsaan Tjokroaminoto sesuai cita-cita konstitusional NKRI.
Ada kurang lebih Sembilan kelas tjokro yang akan dilaksanakan
dalam kegitan ini. Sabtu kemarin menjadi Grand Opening Sekolah Tjokro, dengan
mengangkat tema ketcokroan pada kelas pertama ini yang coba mengulik kembali siapa sosok
Tjokroaminoto itu sebenarnya, bagaimana perjalanan beliau hingga mampu
melahirkan tokoh-tokoh hebat serta mendapat julukan guru bangsa. Hadir dalam
kelas pertama ini Aji Dedi Mulawarman sebagai penulis buku HOS Tjokroaminoto
serta Herry Zudianto walikota Yogyakarta 2001-2011.
Indonesia mengalami masa paling kritis sepanjang sejarah pada
1901-1919. Meletusnya gunung tambora, belum selesainya tanam paksa, dan
liberisasi ekonomi yang masih berlangsung menjadi sebagian sebab kecil kritisnya kondisi Indonesia pada masa itu. Memang benar jika ada yang bilang bahwa
seorang tokoh muncul dari kondisi yang sulit. Pada era itu Tjokroaminoto muncul
dan mampu mencuri sejarah sebagai seseorang yang mampu memahami kegundahan
batin masyarakat. Bapak kos dari Soekarno ini mempunyai prinsip hidup yang
sangat luar biasa, “semurni-murni tauhid,
setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai-pandai siasat”.
Prinsip tersebut mempunyai makna yang snagat dalam. Umtuk bisa mencapai kesejahteraan masyarakat banyak musuh yang harus dilawan, diperlukan
ribuan siasat untuk dapat mengalahkan musuh, siasat tidak bisa dibuat begitu
saja namun perlu ilmu yang tinggi untuk bisa membuat siasat jitu, ilmu yang
tinggi akan menjadi sia-sia bahkan memberikan dampak negatif tanpa adanya
pegangan yang kokoh. Oleh karena itulah kata semurni-murni tauhid menjadi
bagian pertama dalam prinsip hidupnya. Tauhid yang dalam hal ini adalah Islam
bagi Tjokroaminoto adalah lokomotif pergerakan bangsa. Atas dasar itu pulalah
pada tahun 1929 Tjokroaminoto membentuk PSII (Partai Serikat Islam Indonesia)
yang merupakan salah satu pergerakan yang dilakukan oleh Tcokroaminoto.
Ada empat hal dasar yang dilakukan Tjokro untuk melakukan
pergerakan :
1.
Konsolidasi
organisasi
2.
Gerakan
sosial ekonomi
3.
Idealisasi
4.
Gerakan
masyarakat nasional
Sedikit hal yang bisa kita pelajari dari sosok seorang Tjokroaminoto yang lahir dari keluarga bangsawan tetapi mati tanpa meninggalkan harta benda apapun. Pemimpin tidak ada hubungannya dengan jabatan, tetapi bagaimana seseorang selalu bisa memberikan motivasi dan inspirasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar